1# Karena Menjadi Orang Tua Ada Ilmunya

ANAK, ANTARA KARUNIA DAN UJIAN
Dalam persepsi Islam, anak merupakan amanah yang menjadi tanggung jawab orangtuanya. Ketika pertama kali dilahirkan di dunia, seorang anak dalam keadaan fitrah dan berhati suci lagi bersih. Kedua orangtuanya-lah yang memegang peranan penting pada perkembangan berikutnya, apakah keduanya akan mempertahankan fitrah dan kesucian hatinya, atau malah merusaknya dan mengotorinya. Sabda Rosul kita yang mulia :
“Tidak ada satu bayi-pun kecuali terlahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Alloh), namun kedua orangtua-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni atau Majusi” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Seorang anak ibarat adonan yang siap dibentuk sesuka orang yang memegangnya, atau ibarat kertas putih bersih yang siap dituliskan apapun di atasnya. Jika kedua orangtuanya membiasakannya pada kebaikan, maka dia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Sebaliknya jika keduanya membiasakannya pada keburukan, maka dapat dipastikan, dia akan tumbuh menjadi buruk pula.

Pendidikan terhadap anak merupakan bagian terpenting dalam kehidupan berumahtangga. Sebab salah satu tujuan utama pernikahan adalah lahirnya keturunan yang nantinya akan menjadi generasi penerus. Generasi penerus yang tumbuh tanpa didampingi pendidikan agama yang memadai, akan menjadi mangsa dan korban penjajahan peradaban lain. Namun ironinya hal ini tidak disadari oleh kebanyakan pasangan suami istri, sehingga pendidikan agama kurang mendapatkan perhatian dari mereka.

Dalam pandangan kebanyakan orangtua di masyarakat kita, pendidikan yang layak dan baik adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah favorit. Dengan demikian anak tersebut akan dapat berprestasi, hingga nantinya memiliki masa depan yang “sukses dan mapan”. Tidak peduli apakah sekolah tersebut mengajarkan nilai-nilai Islam ataukah tidak. Bahkan lebih dari itu, mereka tidak peduli, meskipun sekolah tersebut dikelola lembaga pendidikan sekuler atau non Islam. Malah mereka berpandangan bahwa jika ingin mendapatkan kualitas “pendidikan yang berkelas”, maka harus menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga-lembaga pendidikan non Islam. Karena lembaga-lembaga tersebut mengelola dan menyelenggarakan pendidikan secara “profesional”, sementara sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga Islam “dikelola dengan apa adanya yang jauh dari profesionalisme.”

Ukuran kesuksesan dalam pandangan mereka adalah ketika seseorang sukses secara materi, atau sukses meraih kedudukan tinggi. Mereka akan sangat bangga dan merasa berhasil mendidik dan membesarkan anak-anak mereka, manakala anak-anak tersebut sukses menduduki suatu jabatan tinggi, atau berprofesi dengan profesi bergensi atau menjadi pebisnis besar. Mereka tidak peduli apakah anak-anak mereka mengerti dan mematuhi tuntunan agamanya, ataukah malah jauh dari itu semua dan tidak mempedulikannya. Mereka hanya mengenal Islam pada momen-momen tertentu saja, setelah itu mereka kembali melupakan dan tidak memperdulikannya. Apakah mereka lupa, atau akah berpura-pura tidak mengerti alasan keberadaan mereka di dunia? Ataukah mereka menyangka akan hidup selamanya di dunia? Atau mereka mengira bahwa setelah kematian semuanya selesai begitu saja?

Apalah arti kesuksesan dalam kehidupan dunia yang singkat ini, jika ditempuh dengan cara yang berakibat pada kesengsaraan tiada akhir di akhirat. Kesuksesan hakiki adalah ketika seseorang pertama kali menapakkan kakinya di surga. Renungkan firman Alloh ini. QS. Ali ‘Imron : 185

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanya kesenangan yang memperdayakan.”

Dan firman-Nya QS. Al Hasyr : 20
“Tidaklah sama antara penghuni-penghuni neraka dan penghuni-penghuni surga, penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”

Alloh ‘Azza wa Jalla, telah berwasiat kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menjaga diri dan keluarga mereka dari api neraka, Alloh berfirman QS. At Tahrim : 6
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan.”

Memelihara atau menjaga keluarga dari api neraka mengharuskan seseorang melakukan pendidikan dan pengajaran terhadap mereka. Dimulai dengan menanam aqidah yang benar, kemudian membiasakan mereka melakukan ketaatan, menjaga sholat, berakhlak mulia dan seterusnya. Tanpa melakukan hal tersebut, berarti dia telah melalaikan wasiat Alloh dan menyia-nyiakan amanah yang Alloh titipkan kepadanya, di mana amanah tersebut kelak akan diminta pertanggung jawabannya oleh Alloh. Rosul kita yang mulia bersabda :

“Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabnanya tentang orang-orang yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang orang-orang yang dipimpinnya.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Seseorang tidak mustahil akan digugat oleh anak yang dikasihinya kelak di hadapan alloh. Anak yang selama dalam kehidupan dunia sangat dia kasihi dan dia banggakan, dia sekolahkan di sekolahan terbaik, dia sediakan baginya fasilitas dan dia penuhi segala kebutuhan materinya, berubah menjadi musuh dan yang menggugatnya.

Segala kebutuhan secara materi memang telah dia penuhi, namun pendidikan agamanya tidak pernah dia pedulikan, sehingga anak tersebut tumbuh dalam kebodohan dan jauh dari agamanya. 

Dia tidak mengerti bagaimana seharusnya beraqidah, dan tidak dapat membedakan mana tauhid mana syirik? 

Dia tidak tahu tatacaar dan kewajiban sholat serta berbagai jenis ketaatan lainnya, sehingga dia meremehkannya. 

Dia tidak dapat membedakan mana yang halal dan mana yang harom, sehingga semuanya diraup habis, tanpa memilah dan memilih, apakah ini sesuatu yang dibolehkan atau dilarang ?

Maka, hancurlah agamanya, rusaklah perilakunya dan suramlah masa depannya, yakni masa depan di akhirat. Karenanya tidak heran jika anak tersebut nantinya menggugat orangtuanya, karena kelalaian orangtuanyalah yang membuatnya terjerumus dalam kesengsaraan, dimana kesengsaraan di akhirat, tiada hentinya.

Karenanya, sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk memberikan perhatian lebih pada pendidikan agama anak-anaknya, melebihi perhatiannya terhadap hal lain bahkan terhadap makan, minum dan kesehatannya.

Karena kelalaian terhadap kebutuhan gizi dan kondisi kesehatan anak hanya berdampak pada memburuknya kesehatan anak tersebut, atau maksimal mengantarkannya pada kematian. Namun, kelalaian terhadap pendidikan agamanya akan sangat fatal akibatnya, karena akan membuatnya sengsara selama-lamanya dalam kehidupan akhirat.

Sungguh, sangat mengherankan sikap sebagian orangtua, yang bersedih dan menangis ketika tubuh anaknya sakit atau mati, namun tidak demikian halnya ketika hati dan jiwanya yang sakit atau mati. Padahal mereka mengklaim sangat mencintai dan menyayangi anak-anak tersebut. 

Maka, apakah tindakan menjerumuskan anak ke dalam kesengsaraan dapat dikatakan sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang ???

Semoga Alloh memberikan taufiq dan kekuatan kepada kita, agar kita dapat menjaga amanah yang Alloh titipkan kepada kita, yaitu dengan mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang benar, sesuai dengan petunjuk-Nya dan tuntunan Nabi-Nya, sehingga kita dapat mempertanggung jawabkan amanah tersebut kelak di hadapan-Nya. Aamiiiin.

Diambil dari buku : Anakku, sudah tepatkah pendidikannya ? – Mushthofa Al Adawi – Pustaka Ibnu Katsir hal x-xiv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *