5# Para nabi tidak memiliki hak memberi hidayah (selesai)

Kemudian perhatikanlah dengan baik. Renungkanlah dengan akal dan hatimu, kisah Nabi Yusuf  yang memiliki wajah bercahaya, indah, dan sangat tampan. Bahkan beliau adalah manusia yang paling tampan. Beliau telah dikarunia setengah ketampanan (dari seluruh ketampanan manusia). Sebagaimana yang disabdakan oleh Rosul kita yang mulia dalam HR. Muslim No. 162 dari hadits Anas bin Malik, Rosul bersabda :

“Lalu aku bertemu dengan Nabi Yusuf, ternyata dia adalah seseorang yang telah dikaruniai setengah ketampanan dari seluruh ketampanan manusia.”

Dahulu beliau adalah seorang anak yang dibuang ke dasar sumur kemudian dipungut oleh beberapa orang musafir, beliau dijual disebuah pasar, tempat menjual hamba sahaya, lalu beliau dibawa ke sebuah istana raja, tempat sebuah fitnah akan menimpanya nanti, yaitu fitnah seorang wanita penguasa yang menggodanya untuk mengikuti keinginan syahwatnya. Akan tetapi beliau menolaknya dan menampik yang menyebabkan dirinya dijebloskan ke dalam penjara untuk beberapa tahum. Di penjara beliau bersama orang-orang yang suka meminum khomr, para pencuri, dan para penjahat, karena demikianlah biasanya sebuah penjara.

Nabi Yusuf dilempar ke tempat seperti itu, akan tetapi siapakah yang telah melindungi beliau ?

Coba perhatikanlah, siapa yang telah melindungi beliau dari keburukan orang-orang yang selalu berbuat jahat kepadanya?

Dan siapakah yang menyelamatkan beliau dari tipu daya orang-orang yang selalu berbuat makar ?

Siapakah yang menghiasi beliau dengan ilmu dan kesabaran, ditambah dengan ketampanan dan kegantengan ? Padahal beliau seorang diri, tidak ada ayah, ibu, ataupun saudara, tidak juga paman, karib kerabat, ataupun kakek. Maka siapakah yang telah mengajari beliau ? Dan siapakah yang telah mensucikan diri beliau ? Siapakah yang telah membina beliau dan siapakah yang telah menjaga beliau ? Sesungguhnya Dia-lah Alloh yang telah melakukan semua ini, Dia-lah Alloh QS. Yusuf : 64

“Sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Inilah Nabi Musa ketika masih kecil, seorang anak yang masih menyusu, beliau berpisah dengan ibunya yang sangat menyayanginya sejak kecil, dialah ibu yang sangat mulia lagi penyayang yang telah memasukkannya ke dalam sebuah peti, lalu dilemparkan ke sebuah sungai bersama peti tersebut.

Kemudian beliau diambil (ditemukan) oleh keluarga yang zholim, yang selalu menumbuhkan permusuhan dan menebarkan pembunuhan dan pelanggaran, beliau diambil oleh keluarga Fir’aun. Sangat mengejutkan dan merupakan sebuah musibah. Akan tetapi siapakah yang telah mengembalikan anak itu kepada ibunya sehingga beliau merasa senang dan tidak bersedih hati ?

Siapakah yang telah melindunginya dari kejelekan dan segala macam bahaya di dalam rumah yang penuh dengan kezholiman dan kejahatan ?

Siapakah yang telah menjaganya sehingga beliau tidak terpengaruh oleh kebiasaan mereka menumpahkan darah, membiarkan para wanita hidup, dan membunuh anak laki-laki ?

Sesungguhnya, yang telah menjaga, melindungi dan memeliharanya adalah Alloh, segala bagi hanya bagi-Nya.

Ada seorang anak, kedua orang tuanya adalah orang yang beriman, tetapi anak itu telah ditetapkan untuk menjadi seorang anak yang kafir sebagaimana yang diberitakan oleh Rosululloh. HR. Shohih Muslim hal 1852

“Adapun anak tersebut, maka dia telah ditetapkan menjadi orang kafir di hari di mana dia ditetapkan.”

Apa yang dapat mereka perbuat terhadap anak yang telah ditetapkan sebagai orang kafir ?

Khidir pun membunuhnya, dan Nabi Musa mengingkarinya, akan tetapi Khidir menegur Nabi Musa, dan menjelaskan hikmah Alloh yang terkandung di dalamnya. QS. Al Kahfi : 74-75

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar.” Khidir berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku.”

Sampai dengan perkataan Khidir : QS. Al Kahfi : 80-81

“Dan adapun anak itu, maka kedua orangtuanya adalah orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Robb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”

Dan tidak usah jauh-jauh, Nabi kita yang mulia dan habib kita semua, Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam, pemimpin manusia, beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, ditinggal bapak dan ibu sejak kecil dan tumbuh di dalam keadaan fakir. Maka,

Siapakah yang telah menjaga beliau ?
Siapakah yang telah menanamkan keimanan di dalam hati beliau ?
Siapakah yang telah mewahyukan Al Qur`an ke dalam hati beliau ?
Dia-lah Alloh Yang Maha Kuasa.
Dia-lah Alloh yang telah melakukannya, maka milik-Nya lah segala nikmat, karunia, dan segala pujian yang baik.

Diambil dari buku : Anakku, sudah tepatkah pendidikannya ? – Mushthofa Al Adawi – Pustaka Ibnu Katsir hal 18-21

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *