3# Para nabi tidak memiliki hak memberi hidayah #1

Ketika Rosululloh membujuk pamannya, yaitu Abu Tholib untuk mengucap “Laa Ilaaha Illallooh”, namun sang paman menampik dan menolak, maka saat itulah Alloh berfirman QS. Al Qoshosh : 56

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Inilah Nabiyulloh Nuh yang senantiasa mengajak anaknya untuk ikut bersamanya QS. Hud : 42

“Wahai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir”

Akan tetapi Alloh sama sekali tidak berkehendak untuk memberikan petunjuk (hidayah) kepada anak Nabi Nuh, lalu anak tersebut berkata QS. Hud : 43

“Anaknya menjawab, “aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah.”

Lalu sang ayah berkata QS. Hud : 43

“Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksa Alloh pada hari itu, selain Alloh Yang Maha Penyayang.” Dan  gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

Pada saat itu nampaklah rasa kasih sayang Nabi Nuh kepada anaknya. Beliau mengadu pada Robb-Nya : QS. Hud : 45

“Wahai Robb-ku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.”

Lalu Alloh memberikan peringatan atas perbuatan beliau dalam firman-Nya QS. Hud : 46

“Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), perbuatannya sungguh tidak baik. Sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui hakikatnya. Aku menasehatimu agar engkau tidak termasuk orang yang bodoh.”

Akhirnya Nabi Nuh pun memohon maaf kepada Alloh atas apa yang telah ia lakukan, dengan ungkapan QS. Hud : 47

“Wahai Robb-ku sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.”

Bersambung …..

Diambil dari buku : Anakku, sudah tepatkah pendidikannya ? – Mushthofa Al Adawi – Pustaka Ibnu Katsir hal  12-16

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *